Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selepas Zaman

Kita adalah anak-anak sejarah,
Korban iklan serta peradaban yang biadab,
Bahasa kesunyian kita ada pada keramaian itu sendiri,
Mesin-mesin pintar berjejalan memasuki kamar pribadi,
Memberangus aset privasi dan keintiman,
Kita telanjang, saling berpeluh di hadapan cermin,
Layaknya model majalah dewasa yang lihai di depan kamera,
Tak ada malu, karena cermin pun tak mengakui dirinya.


Hendra Karta


Lelaki Penggoda

Jembatan memisahkan ujung satu dengan ujung lainnya, begitu pula bulan, dia terang ditemani bintang dalam gelapnya malam, mereka tampak polos penuh arti.

Aku bukanlah lelaki penikmat senja, dan penanti pagi, aku ingat tentang malam yang dingin, tentang kamar yang hangat, serta rindu yang basah dari sisa hujan kemarin.

Aku benci keramaian serta suara berderit aspal dengan karet hitam kendaraan, ditemani wanita paruh baya, saling beradu peluh, saat zaman tak peduli soal problematika kehidupan.

Aku bukanlah penggoda, pun seorang pujangga, aku hanya penikmat kamar, tempat segala penantian berakhir, tempat melepas rindu yang basah.


Hendra Karta

Kenangan






Sepertiga malam sudah terlewati,

Perselisihan antara kening dan sajadah,
Meninggalkan doa yang entah diijabah,

Terlampau jahat kenangan itu,
Membekas lalu berdiam tak menentu,

Senyap, senyap, senyap,
Ku diam seribu bahasa,
Aku lupa, Aku duduk terpaku,
Mencoba ingat walau rindu menyibak, dari lamunanku.


Hendra Karta

Titip Salam pada Sang Fajar






Tuhan,
Ku titipkan salam kepada sang fajar,
Saat dia mengintip duniaku,
Saat dia menyentuh tubuhku,
Saat dia masuk kedalam sukmaku,
Saat dia menahan nafsuku,
Saat dia membangunkanku dari mimpi dan lamunanku,
Terimakasih Tuhan

Subang, 2015


Hendra Karta

Aku dan Kamu




 




Aku dan kamu,
Tak ada jarak yang membelenggu,
Pun waktu yang menentu,

Aku dan kamu,
Saling bercumbu,
Tak tahu malu,

Aku dan kamu,
Bersua dan merayu,
Untuk masa  depan yang menggebu,
Bersamamu.

2015, Subang



Hendra Karta

Venus





Venus,
Jika ada bintang seterang itu,
Maka ijinkanlah aku untuk terus menatapmu,
Hingga mata ini menjadi lelah,
Hingga jiwa ini menua dan renta,
Hingga waktu ini abadi ditela rindu,
Rindu, jika benar rindu itu ada untuk saling mencinta,
Maka aku ingin jatuh cinta,
Sejatuh-jatuhnya.

2015, Jakarta


Hendra Karta